Monday 27th September 2021

Kapolres Sanggau Akan Terapkan Program SMTA Guna Mengurangi Jumlah Hot Spot Dimusim Kemarau




Sanggau TangkalNews–  Melakukan perladangan berpindah terhadap tanah garapan yang berada di areal  atas Bukit, Gunung maupun lahan kering bagi warga masyarakat pedesaan di Kalimantan Barat  merupakan suatu tradisi yang telah berlaku secara turun temurun sejak dahulu kala hingga saat ini.  Latar belakang dilakukannya  kebiasan tersebut dikarenakan  minimnya  ketersediaan lahan  basah seperti sawah maupun rawa rawa  yang ada dimasyakat.  Sehingga para petani  kalau ingin membuka lahan  untuk berladang  sebagian besar  untuk membersihkannya  masih menggunakan cara dibakar karena tidak dimilikinya alat berat  untuk menimbun kayu kayu besar.

Sudah barang tentu kebiasaan yang dilakukan para petani tersebut sangat bertolak belakang dengan kebijakan dan keinginan pemerintah saat ini , sebab tindakan membakar lahan untuk membuka ladang dapat menyebabkan polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan karena munculnya   sesak napas serta penyakit   pernapasan akut.  Selain itu  berimbas munculnya kabut asap yang terjadi  di dalam negeri maupun di negara tetangga.

 

Menyikapi kondisi tersebut  Kapolres Sanggau, AKBP Raymond M. Masengi mengatakan bahwa Polres Sanggau saat ini memiliki program Sanggau Maju Tanpa Asap (SMTA). Program tersebut diklaim bisa menekan tingkat hotspot akibat kebakaran hutan dan lahan  
“Kami memfasilitasi permasalahan Karhutla yang ada. Kami memberikan solusi, bahwa masyarakat di Kabupaten Sanggau tetap boleh berlandang, hanya saja jika berladang  harus tanpa membakar,” katanya  Kapolres  Rabu (26/2/2020).

Raymon  memperkirakan  ada beberapa faktor  yang mendorong seseorang melakukan pebakaran  lahan, misalnya  Ingin biaya yang murah, Dapat meningkatkan tingkat PH  tanah sehingga tanah bertambah subur, atau  justru ketidak tahuan sama sekali dampak yang akan terjadi jika membakar lahan .

“Kalau  karena ingin biaya yang murah, maka kami telah menjalin kerjasama  untuk menyediakan alat untuk membantu yang berkaitan dengan tegnologi. Kemudiuan  jika alasannya untuk menambah kesuburan lahan, maka  bisa diberikan  pupuk yang cukup.

Selanjutnya  karena adanya ketidak tahuan  sama sekali, tentunya  ini domainnya penyuluh pertanian yang ditugaskan pemerintah  di didesa desa.

Dan yang terakhir   karena hobi membakar, itu bisa kita buatkan cuka kayu,harapannya dengan program ini angka hot spot bisa ditekan.  Itu artinya dalam realisasinya nanti  akan melibatkan  seluruh komponen yang , termasuk tokoh adat. Harapnnya, jika ditemukan hal-hal yang dilakukan di luar ketentuan,  petugas kepolisian  tidak akan turun duluan.

 

“Biarkan dulu tokoh adat yang menegur. Karena semangat kita sama, membuka ladang dengan tidak membakar. “Karena pengaturan, kepemimpinan dari tokoh-tokoh adat, tokoh masyarakt sangat penting bagi kami untuk mengatur jadwal. Karena dalam adat sendiri, khususnya saudara-saudara kita beretnis Dayak, jika membakar lahan bukan  tanah miliknya, itu ada sanksi adatnya ,” bebernya.

Soal pengadaan alat mupun pupuk, lanjut Kapolres akan dilihat situasi kemudian. Bisa dari CSR perusahaan atau dari pemerintah.

“Kita lihat situasi, berapa banyak kebutuhan pupuk, alat, dan penyuluh,” imbuhnya.

Kapolres mengaku sudah menyampaikan program tersebut ke Bupati  Sanggau ,Paolus Hadi dan ternyata mendapat respon positif. Program ini dibagi  ditiga tempat , Pertama:  Mengkiang-Sungai Langir. Kedua: tujuh desa dalam enam kecamatan. Ketiga: seluruh wilayah Sanggau.

“Harapan kami kedepan, Polres Sanggau tidak melakukan penangkapan lagi soal kebakaran lahan. Tapi dengan keterlibatan semua pihak, kita bisa menekan angka hotspot. Untuk perusahaan sendiri akan kita libatkan. Mungkin pertengah atau Maret akhir kita akan melakukan koordinasi,” pungkasnya. 

Sumber: Humas

Editor: TangkalNews.com 




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply