Warga Didua Dusun Saling Klaim Terhadap Lahan Garapan PT. PAS

 

Landak TangkalNews– Keberadaan lahan perkebunan Kelapa Sawit yang dikelola dan dikuasai  PT. Palma Asri Sejahtera (PT PAS) secara administrasi terletak  di wilayah Kecamatan Ngabang , Kecamatan Menyuke serta sebagian kecil lagi masuk ke wilayah  Kecamatan Kuala Behe. Itulah sebabnya karena  posisi  lahan perkebunan seperti itu sehingga menimbulkan saling klaim wilayah diantara warga ke -2 Dusun yang berbeda wilayah secara administrasi pada  Rabu (07/08). 

Disaat PT. PAS  melakukan pembebasan lahan, bahwa lahan yang telah dibebaskan  bernama   Pulau Baguruh  diserahkan oleh warga Dusun Andong yang terletak di Desa Sungai Lubang Kecamatan Menyuke pada tahun 2009, namun pada tahun 2019 lahan tersebut di klaim oleh Dusun Bangsal Behe yang terletak diwilayah Kecamatan Ngabang.

Baca Juga:  Warga Dusun Tiang Aji Menutut Ganti Rugi Lahan Rp.35 Juta /Ha Kepada PT GRS

Terkait hal itu , ternyata mengundang konflik yang terus berlanjut  karena belum ada kata sepakat dan jalan  penyelesaian. Setelah mengalami jalan buntu   akhirnya kedua Dusun yang bersengketa sepakat untuk melaksanakan mediasi yang difasilitasi oleh pihak Disbunhut Kabupaten Landak.

Melalui perwakilan penyerah lahan,  Redes menjelaskan bagaimana kronologis penyerahan lahan tersebut, sembari menegaskan bahwa  kalau menyangkut    lahan tidak bermasalah dan penyerahannya sah secara hukum ” ujarnya.

Selanjutnya  menurut   Manager Humas PT. Djarum Region Landak, Sidarsono menjelaskan bahwa pihak perusahaan sudah melaksanakan prosedur yang benar dalam hal tehnis pembebasan lahan.

Baca Juga : Karena Tuntutan Belum Dipenuhi ,Jalan Kebun PT GRS Dipagar Para Karyawan BHL

Lebih lanjut dijelasan Sidarsono  kalau pihak perusahaan sudah mengikuti prosedur pembebasan lahan di antaranya pendataan potensi lahan, pendataan pemilik lahan hingga negosiasi, surat persetujuan pemilik lahan dan ahli waris, syarat administrasi legalitas dari dusun, ekspose, menerima klaim jika terjadi masalah, hingga proses GRTT.

” awalnya tidak ada klaim sejak dibebaskan pada tahun 2009, namun sejak lahan telah berproduksi tahun 2019 barulah muncul klaim lahan, ” ujar  Sidarsono.

Para Kepala Dusun yang bersengketa masing – masing menceritakan sejarah lahan tersebut sebagai dasar argumen kepemilikan, namun sejarah tidak dapat menguatkan hak milik jika diproses sesuai hukum yang berlaku.

Hingga menjelang sore Mediasi terus dilakukan namun tidak membuahkan hasil.

Baca Juga : Akses Menuju Perusahan Ditutup Lantaran Manager Kurang Menyerap Tenaga Kerja Lokal

Kapolsek Ngabang B. Sembiring menjelaskan, ” bahwa sejarah asal usul lahan bisa saja benar jika didukung oleh bukti berupa data kepemilikan sesuai administrasi pemerintahan yang ada. Oleh karenannya sangat dibutuhkan   pro aktif Camat masing – masing wilayah untuk duduk bersama dalam mencari solusi, ”  pungkas B. Sembiring.

Sumber : By  Atung

Editor  oleh TangkalNews.com

Print Friendly




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply