Bupati Landak Karolin, Merespon Positip Adanya Penyelesain Sengketa Melalui Jalur Kearipan Lokal

Landak TangkalNews – Dalam pemberitaan  sebelumnya persengketaan antar warga  masyarakat atas sebidang tanah sawah yang terjadi di kampung  Ngapit Kiri Dusun sekendal Desa Sekendal Kecamatan Air Besar kabupaten Landak Kalimantan Barat lalu ,yang pada akhirnya diselesaikan dengan mengindahkan  kearifan lokal yang berlaku didaerah tersebut yang merupakann pengadilan tertinggi bagi masyarakat hukum adat suku Dayak  pada umumnya.

Sebenarnya masih ada lagi bentuk eksekusi pengadilan adat  jenis lain yang berlaku dikalangan suku dayak selain Bajanyi  alias beradu menyelam dalam air  yaitu misalnya dengan cara bersumpah kepada Pama Jubata (Tuhan yang Maha Esa)  didepan  Peraga Adat Istiadat ,tergantung kesepakatan kedua belah pihak cara yang mana akan ditempuh untuk menentukan diantara kedua belah pihak siapa yang benar benar  orang paling berhak menjadi pemenang dalam suatu permasalahan yang dihadapi.

Seperti eksekusi terhadap sengketa sebidang tanah sawah antar warga masyarakat  yang terjadi  Binua Dait Ulu di kampung  Ngapit Kiri Dusun sekendal Desa Sekendal Kecamatan Air Besar kabupaten Landak ,dimana pejabat Adat  yaitu Ketemenggungan  yang merupakan  petinggi hukum adat Dayak didaerah itu mengarahkan  untuk menggunakan cara  kearifan lokal yang berlaku sejak turun temurun dalam wilayah masyarakat Adat Dayak khususnya dibinua Dait Ulu Kecamatan Air Besar kabupaten Landak yakni Bajanyi alias  Adu ketahanan  menyelam dalam  Air.

Ternyata apa yang telah dilakukan warga masyarakat Adat tersebut  mendapat respon positip  dari Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa, dimana pihaknya  memuji langkah dan kebijakan ketemenggungan Adat Dayak di Binua Dait Ulu bersama  pemerntah desa Sekendal, pihak kecamatan Air Besar  dan Kapolsek  yang telah berhasil menyelesaikan melalui cara kearifan lokal, pada (27/11) lalu. Menurutnya, langkah penyelesaian masalah tersebut sudah sepantasnya dipertahankan guna menjaga kearifan lokal pada wilayah Kabupaten Landak.

“Kami sangat mengapresiasi penyelesaian sengketa yang telah dilakukan oleh warga Desa Sekendal, cara yang demikian ini harus tetap dipertahankan karena setiap permasalahan yang terjadi dimasyarakat, sebelum diputuskan menuju tingkat yang lebih tinggi sebaiknya diputuskan secara baik-baik menggunakan cara kearifan lokal yakni hukum adat yang berlaku didaerah setempat,” ujar Bupati Landak ditemui Jumat (29/11).

 

“Kita di Kabupaten Landak ini memiliki beraneka ragam adat dan budaya dan perlu diketahui bersama bahwa Kabupaten Landak juga sudah menjadi percontohan dalam mengelola desa berbasis adat. Tentunya semua ini akan terus berlanjut jika peran serta masyarakat mampu menjaganya karena masyarakat lebih tahu adatnya masing-masing dan hal ini harus kita pertahankan mengingat setiap permasalahan yang terjadi selain dapat diselesaikan secara hukum pidana ternyata dapat diselesaikan secara hukum adat,” ungkap Karolin.

Camat Air Besar, Heri Sarkinom kepada Media menyampaikan bahwa penyelesaian sengketa yang terjadi di Desa Sekendal merupakan bentuk dari sikap masyarakat yang masih mempertahankan dan menghargai adat yang berlaku didesa tersebut.

“Sengketa tanah masyarakat yang terjadi di Desa Sekendal ini sudah lama terjadi, tetapi baru dapat diselesaikan belum lama ini. Penyelesaian dengan cara adat ini merupakan bentuk dari sikap masyarakat setempat yang masih menjunjung tinggi adat setempat karena mereka menyadari bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan secara baik-baik,” ujar Heri.

 

Sementara itu Kepala Desa Sekendal, Markus Pasaribu mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hukum adat dalam setiap penyelesaian permasalahan dimasing-masing wilayahnya dan meminta untuk tetap menerima dan menghormati keputusan tersebut supaya tidak terjadi hal serupa dikemudian hari.( Red)

Sumber MC

Editing TangkalNews.com

 

Print Friendly




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply